Loading interface...
HP TERBARU

Loading interface...
Populer saat ini

Loading interface...
Loading interface...

Fenomena ‘Bakar Uang’ Berujung Konsolidasi

Selular | 03 Des 2019 02:00
Fenomena ‘Bakar Uang’ Berujung Konsolidasi

Menjamurnya perusahaan rintisan teknologi (start up) di Indonesia merupakan bukti bahwa ekosistem ekonomi digital mulai tumbuh dengan baik.

Mengutip Startupranking.com, Indonesia menempati urutan keenam dunia dengan jumlah 1.902 startup, setelah AS, India, Inggris, Kanada, dan Jerman.

Dari banyaknya start up itu, beberapa sudah menjelma menjadi unicorn. Saat ini di ASEAN ada tujuh unicorn, empat di antaranya berasal dari Indonesia, masing-masing Bukalapak, Tokopedia, Traveloka dan OVO. Bahkan sejak Juli 2019, GoJek telah menjelma menjadi decacorn, mengimbangi Grab, perusahaan teknologi asal Malaysia.

Salah satu strategi bisnis yang kerap dilakukan oleh pelaku startup dalam menjalankan usahanya adalah praktik ‘bakar uang’. Mereka gencar melakukan praktik bakar uang dengan memberikan diskon yang besar, tujuannya agar konsumen tergiur menggunakan layanannya.

Namun investor venture capital mendapat pembelajaran berharga dari kasus startup yang bergerak di bidang coworking space, WeWork. Pembelajaran tentang bagaimana strategi bakar uang bisa meningkatkan valuasi dengan cepat tetapi tak sehat bagi perusahaan.

WeWork sempat diambang kebangkrutan karena terancam kehabisan uang setelah gagal melantai di bursa atau IPO karena investor meragukan model bisnis dan tata kelola perusahaan. Untuk selamatkan perusahaan SoftBank harus menyuntikkan US$9,5 miliar.

Tak jauh berbeda dengan Uber. Pada kuartal dua 2019, pendapatan Uber tercatat US$3,16 miliar. Namun kerugian yang dicatat pun tak kalah besar, yakni mencapai US$5,2 miliar. Ini adalah kerugian terbesar perusahaan.

Begitupun dengan layanan pembayaran digital OVO. Lippo Group telah mengurangi kepemilikannya di dompet digital OVO. Sampai saat ini, Lippo hanya memiliki sebesar 30% saham namun tetap menjadi pemegang saham utamanya. Tak kuat lagi bakar uang untuk membesarkan perusahaan menjadi pertimbangan untuk membagi beban tersebut dengan investor lain. Asal tau saja bakar uang ini dilakukan OVO dalam bentuk memberikan diskon di mitra yang bekerja sama dengannya.

Bhima Yudistira, Pengamat Ekonomi INDEF, mengungkap bahwa kecenderungan digital booming masih akan berlangsung namun perlu adanya kekhawatiran terhadap dampak yang bisa ditimbulkan.

“Kita melihat fenomena global maupun domestik di Amerika Serikat dan Eropa, banyak yang tadinya mau beli saham WeWork tapi IPO-nya batal. Softbank menderita kerugian yang relatif juga besar. Lalu baru-baru ini, OVO misalnya, sahamnya mulai mau dilepas dari sahamnya Lippo Group. Karena salah satunya burning money didalam startup, at the end of the day, kemungkinan besar di tahun 2020 akan terjadi koreksi yang luar biasa besar. Artinya jumlah pemain uang digital yang jumlahnya puluhan itu akan mengerucut menjadi 2 atau 3 pemain besar terkonsolidasi,” ujar Bhima, dalam acara Selular Telco Outlook 2020, di Hotel Aston, Jakarta, Senin (2/12/2019).

Dengan ‘seleksi alam’ ini, Bhima menyebut ini sebagai peluang apabila perusahaan-perusahaan telco mendekati konsolidasi-konsolidasi pemain besar tersebut, maka di situ akan menjadi ceruk pasar yang bisa menjadi blue ocean.

Sementara itu, di sektor transportasi online yang sebelumnya ada 10-15 perusahaan, namun saat ini telah menyisakan dua pemain besar, yaitu Gojek dan Grab. Berkembangnya ekosistem digital sesungguhnya memberikan peluang bagi operator dan perusahaan lain untuk menggarap new business. Jumlah pengguna data yang terus melonjak setiap tahunnya, menjadi penopang dari bisnis masa depan ini.

“Saya melihat yang salah satu menarik adalah driver-driver ojek online sekarang mengandalkan Telkomsel misalkan, itu artinya provider yang bisa membaca bahwa at the end of the day bisnis-bisnis digital akan mengerucut pada satu-dua pemain besar. Kalau bisa membaca peluang di sana, menawarkan services, dan menjadi pioneer di situ, Saya kira itu salah satu potensi pasar yang terbuka,” pungkasnya.

Selain keresahan terhadap laju digital economy yang seakan membesar, Bhima juga memprediksi akan ada resiko yang perlu diwaspadai oleh operator telekomunikasi saat bekerja sama dengan institusi pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah. Hal ini menyangkut realisasi belanja modal pemerintah pusat yang sedang mengalami penurunan. Imbasnya, prospek pembangunan infrastruktur telekomunikasi akan menemui kendala.

“Prospek pembangunan infrastruktur telekomunikasi memang seakan cepat, tapi hati-hati, apalagi pemerintah daerah yang khususnya bergerak di sumber daya alam. Karena bisa jadi kontrak sudah ditandatangan tapi pembayarannya mungkin menemui kendala. Karena ada faktor dari Penerimaan Pajak yang slow down, Penerimaan Pajak di daerah yang juga mengalami kontraksi sehingga buat pemain telco untuk bekerja sama dengan pemerintah justru di tahun 2019 dan 2020 harus sangat-sangat selektif. Ada potensi tapi juga ada risk,” jelas Bhima.

Like
Simpan
Bagikan
Tulis Komentar

Rekomendasi terdekat


Rekomendasi terdekat

Populer saat ini

Hp Terbaru
Loading interface...